“ Solusi mudah dan terpercaya dalam mendapatkan Alat Berat & Truk dengan kondisi Bekas dan Siap Kerja ”


Kami Used-HeavyMachinery.Com akan membantu & melayani serta memberikan solusi dalam mendapatkan dan memenuhi
Kebutuhan atas Alat Berat & Truk dengan kondisi Bekas dan Siap Kerja serta harga yang kompetitif.

___________________________ Manfaatkan kemudahan yang akan diberikan dan pelayanan dari kami ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL









Berita
OPEC tak turunkan kuota, harga minyak dunia turun PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Jumat, 05 Juni 2015 13:56

NEW YORK. Harga minyak mentah dunia menuju pelemahan mingguan terdalam sejak Maret 2015. Tergelincirnya harga minyak mentah seiring dengan spekulasi bertahannya produksi minyak OPEC usai pertemuan Jumat ini di Vienna.

Dengan kondisi itu, pasokan minyak dunia dikhawatirkan akan terus berlebihan. Minyak Brent pengiriman Juli berada di level US$ 62,11 per barel dalam perdagangan ICE Futures Europe exchange di London. Harga naik 8 sen pada pukul 1:26 p.m waktu Singapura. Namun kontrak minyak pada hari sebelumnya turun  US$ 1,77 menjadi US$ 62,03.

Sementara harga minyak WTI untuk pengiriman July pada hari ini naik 3 sen menjadi US$ 58,03 per barel dalam perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange. Secara keseluruhan dalam minggu ini minyak WTI telah kehilangan 3,8%.

Sepeti diketahui Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) akan melakukan pertemuan untuk membahas kuota minyaknya. Namun pertemuan ini diperkirakan tidak akan banyak menghasilkan kesepakatan penurunan kuota produksi, karena OPEC ingin mempertahankan pangsa pasarnya.

Menurut Maria van der Hoeven, Eksekutif Direktur International Energy Agency, OPEC yang terdiri dari 12 negara produsen minyak tersebut akan tetap menjaga target produksi sebesar 30 juta barel per hari.

"Kemungkinan konsensus dalam pertemuan OPEC tersebut, adalah tidak ada penurunan kuota," kata Ric Spooner, Analis utama CMC Markets di Sydney. Dengan begitu maka dikhawatirkan pasar akan kelebihan pasokan.

Editor: Uji Agung Santosa
Sumber: Bloomberg

Narasumber : kontan.co.id

 
Ekonomi melambat, pertumbuhan kredit bank seret PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Jumat, 05 Juni 2015 13:53

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit bank umum pada April 2015 mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini tak lepas dari dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional pada April lalu.

Menurut Tirta Segara, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, jumlah kredit yang disalurkan oleh Bank Umum mencapai Rp 3.747,3 triliun. Jumlah ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 10,3% secara year on year (yoy). "Pertumbuhan ini melambat dibandingkan pertumbuhan Maret 2015 yang tumbuh 11,1% secara yoy," kata Tirta dalam publikasi resmi oleh BI mengenai data Uang Beredar per April 2015 pada Kamis (4/6).

Perlambatan pertumbuhan kredit bank umum tersebut sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik yang sebesar 4,7% yoy pada kuartal I 2015. 'Pertumbuhan ini memang lebih rendah dibanding periode sebelumnya 5,0% secara yoy," ujar Tirta.

Perlambatan kredit Bank Umum tersebut menurut BI terutama bersumber dari kredit produktif yaitu Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI). Penyaluran KMK perbankan pada April 2015 sebesar Rp1.762,3 T, atau tumbuh 8,9% (yoy), lebih rendah dibanding Maret 2015 (9,6%;yoy). "Secara sektoral, perlambatan pertumbuhan KMK terutama terjadi pada sektor Industri pengolahan dan sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran," jelas Tirta.

KMK yang diberikan pada sektor Industri pengolahan tumbuh 15,4% (yoy), sedikit melambat dibanding Maret 2015 (15,8%;yoy). "Sementara Kredit kepada sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran juga mengalami perlambatan dari 10,8% (yoy) menjadi 10,0% (yoy) pada April 2015," pungkas Tirta.

Editor: Uji Agung Santosa

Narasumber : kontan.co.id

 
The Fed: Ekonomi AS tumbuh antara April-Mei PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Kamis, 04 Juni 2015 16:31

NEW YORK. The Federal Reserve mengatakan perekonomian Amerika Serikat mengalami pertumbuhan pada periode April hingga Mei, rebound dari kuartal pertama yang mengalami kontraksi. Hal itu terungkap pada evaluasi ekonomi teranyar yang dilakukan the Fed.

Dalam evaluasi yang tertuang dalam Beige Book disebut, survei yang dilakukan di seluruh penjuru AS menunjukkan aktivitas perekonomian secara keseluruhan mengalami peningkatan.

"Outlook dari responden secara umum sangat optimistik," jelas the Fed.

Seperti yang diketahui, tingkat pertumbuhan ekonomi AS secara tidak terduga mengalami penurunan pada tiga bulan pertama tahun ini. Penyebab utama kontraksi tersebut disinyalir akibat cuaca dingin yang buruk.

Meski demikian, cuaca buruk yang dikombinasikan dengan penguatan dollar, mendorong Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mempertimbangkan untuk memangkas prediksi pertumbuhan AS pada Rabu (3/6).

Kenaikan suku bunga?

OECD saat ini memprediksi pertumbuhan ekonomi AS hanya akan tumbuh 2% di 2015 dan 2,8% pada tahun depan. Prediksi tersebut lebih rendah dari ramalan November sebesar 3,1% dan 3%.

The Fed mengatakan, aktivitas manufaktur secara umum terbilang stabil dan meningkat dalam dua bulan terakhir. Sementara, mayoritas negara bagian melaporkan adanya kenaikan pada anggaran belanja ritel dimana para pengusaha ritel memprediksi peningkatan penjualan yang berlangsung hingga akhir 2015.

Di luar itu, Beig Book juga menulis mengenai terpukulnya industri energi akibat anjloknya harga minyak dunia. Sebagai dampaknya, sejumlah perusahaan minyak memangkas jumlah karyawan dan membatasi aktivitas pengeboran mereka.

Sekadar tambahan informasi, Beige book merupakan rangkuman dari seluruh bisnis yang tersebar di AS. Data ini membantu the Fed untuk memutuskan kapan waktu yang tepat untuk menaikkan suku bunga acuan.

Editor: Barratut Taqiyyah
Sumber: BBC


Narasumber : kontan.co.id

 
Harga aluminium terangkat sementara PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Kamis, 04 Juni 2015 16:25

JAKARTA. Harga aluminium menunjukkan kenaikan. Tetapi kondisi tersebut bersifat sementara mengingat indeks dollar Amerika Serikat (AS) menguat.

Mengutip Bloomberg, Rabu (3/6) pukul 10.36 waktu Shanghai, harga aluminium di London Metal Exchange terkerek 0,6% menjadi US$ 1.751 per metrik ton. Sehari sebelumnya, harga aluminium terkoreksi 1,2% ke level US$ 1.740,50 per ton.

Ibrahim, Analis dan Direktur PT Ekuilibrium Komoditi Berjangka menjelaskan, kenaikan tersebut disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, data manufaktur Tiongkok yang dirilis HSBC Final Manufacturing PMI mencapai 49,2 per Mei 2015, tumbuh tipis ketimbang bulan sebelumnya yang berkisar 49,1. Meskipun masih di bawah level 50, angka tersebut sesuai dengan ekspektasi para analis.

Kedua, data manufaktur AS yakni ISM Manufacturing PMI yang berkisar 52,8 pada akhir Mei 2015, naik dari posisi bulan sebelumnya yang berkisar 51,5. Angka tersebut melebihi perkiraan para analisis yang dipatok pada level 51,9.

Ia yakin, bagusnya data manufaktur kedua negara tersebut yang merupakan konsumen terbesar komoditas berimbas pada terkereknya harga aluminium. Sebab, sektor otomotif, pesawat, hingga properti menggunakan jumlah aluminium yang cukup banyak.

Ketiga, opsi pembayaran utang Yunani yang sepertinya akan mendapat lampu hijau baik dari European Central Bank (ECB) maupun International Monetary Fund (IMF). Pada Jumat (5/6), Yunani memiliki utang jatuh tempo sebesar 6,5 miliar euro. Dari besaran tersebut, sebanyak 1,5 miliar euro berupa utang terhadap IMF. Sedangkan sisanya adalah surat utang yang jatuh tempo. "Ini memberikan sentimen positif kepada pasar," ujarnya kepada KONTAN, Rabu (3/6).

Apalagi ECB berencana menggelar konferensi pers pada Rabu (3/6) malam. Banyak pihak yang memprediksi Bank Sentral Uni Eropa tersebut akan memberikan sentimen positif menyangkut perkiraan ekonomi, inflasi, hingga kebijakan moneter dalam waktu mendatang. Ibrahim berpendapat, jika ECB dapat merilis data yang cukup bagus, bahkan mengurangi stimulus yang saat ini mencapai 60 miliar euro, perekonomian negara-negara akan pulih sehingga dapat mendongkrak harga aluminium.

Tapi, ia memprediksi naiknya harga aluminium tak bertahan lama, bahkan dapat kembali ke posisi semula. Sebab, lanjut Ibrahim, pekan depan Tiongkok akan meluncurkan data penjualan propertinya. "Kita belum tahu akan berkiblat ke mana pasar properti Cina," tuturnya.

Belum lagi pada Jumat (5/6), AS akan merilis data tenaga kerjanya. Jika hasilnya cukup bagus, maka kemungkinan dollar akan menguat yang berimbas pada turunnya harga komoditas seperti aluminium. Lihat saja, indeks dollar menguat dari posisi sebelumnya 95,83 menjadi level 96,07 per 3 Juni 2015 pukul 15.37 WIB. Kondisi inilah yang dapat memengaruhi harga aluminium.

Dari sisi teknikal, Ibrahim menilai mayoritas indikator menunjukkan harga aluminium hanya menguat sementara. Moving average dan bollinger band berada di posisi 80% di atas bollinger bawah. Stochastic 70% positif. Sedangkan moving average convergence divergence (MACD) dan relative strength index (RSI) cenderung mengambil posisi wait and see sembari menanti rilisnya data dari ECB dan data tenaga kerja AS.

Ia memperkirakan. harga aluminium Kamis (4/6) akan berada di kisaran US$ 1.740-US$ 1.820 per ton. Selama sepekan harga akan tertekan hingga di rentang US$ 1.650-US$ 1.830.

Editor: Uji Agung Santosa

Narasumber: kontan.co.id

 
Suplai OPEC diduga tetap, harga minyak tergelincir PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Kamis, 04 Juni 2015 16:02

JAKARTA. Harga minyak mentah tergelincir dari level tertinggi tiga pekan. Pasalnya, pelaku pasar mengantisipasi hasil pertemuan negara-negara pengekspor minyak yang tergabung dalam Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC).

Mengutip Bloomberg, Rabu (3/6) pukul 17.15 WIB, minyak west texas intermediate (WTI) kontrak pengiriman Juli 2015 tumbang 2,2% menjadi US$ 59,87 per barel. Padahal, sebelumnya, harga bahan bakar fosil ini bertengger di level US$ 61,26 per barel. Ini harga tertinggi dalam tiga pekan terakhir.

Analis Monex Investindo Futures Agus Chandra mengatakan, harga minyak cenderung tertekan jelang pertemuan OPEC di Wina pada Jumat (5/6). Maklum, sejumlah analis dan trader yang disurvei Bloomberg menduga, OPEC akan mempertahankan target produksi sebesar 30 juta barel per hari. Artinya, pasokan minyak di pasar global akan tetap melimpah. "Ini sentimen negatif bagi harga minyak," paparnya.

Meski demikian, Analis SoeGee Futures Nizar Hilmy menilai, penurunan harga minyak yang terjadi kemarin belum mengubah tren menjadi bearish. Asal tahu saja, selama tiga hari sebelumnya, harga minyak cenderung naik.

Namun, lanjut Nizar, hasil pertemuan OPEC akan menjadi faktor dominan penggerak harga minyak pada pekan ini. Apalagi, terbuka peluang bagi anggota kelompok ini untuk menambah kuota produksi. Sekadar gambaran, sepanjang Mei lalu, OPEC memompa hingga 31,58 juta barel sehari, atau melebihi kuota.

Selain faktor OPEC, harga minyak juga akan semakin tertekan, apabila data-data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan hasil memuaskan. Pada Rabu (3/6) malam, Negeri Paman Sam akan merilis data pertambahan pekerja di sektor swatsa yang diduga menunjukkan peningkatan. "Jika sesuai perkiraan, dollar bisa rebound, sehingga harga komoditas berguguran lagi," ujar Nizar.

Prediksi Agus, meski pasar minyak cenderung tertekan, namun masih bisa tertopang apabila data stok minyak AS sesuai perkiraan. Pasar memperkirakan stok minyak turun sebanyak 1,9 juta barel dalam sepekan yang berakhir 29 Mei lalu. Pemerintah AS akan merilis data tersebut pada Rabu (3/6) malam. “Jadi, meskipun terkoreksi, harga minyak dalam sepekan bisa tetap berada di atas level US$ 57,70 per barel,” katanya.

Sedangkan secara teknikal, Agus bilang, harga minyak masih berpeluang naik dalam jangka pendek. Menurutnya, harga berada di atas moving average (MA) 50 dan MA 100. Indikator ini memberikan sinyal bullish. Begitu pula dengan indikator moving average convergence divergence (MACD) yang berada di area positif 0,86. Indikator relative strength index (RSI) berada pada level 63, yang menunjukkan penurunan dari area jenuh beli (overbought).

Hanya, stochastic yang berada di level 86 justru menunjukkan kondisi jenuh beli. Agus menduga, hari ini, harga minyak WTI akan bergerak di kisaran US$ 59,00-US$ 61,70 per barel. Sementara, dalam sepekan, support minyak di level US$ 57,70, dengan resistance pada level US 62,50 per barel. Sementara, Nizar menebak, hari ini, harga minyak cenderung terkoreksi di kisaran US$ 59,0-US$ 61,0 per barel. "Sepekan, harganya bisa bergerak antara US$ 57 hingga US$ 62 per barel," tutupnya.

 

Editor: Uji Agung Santosa

Narasumber : kontan.co.id

 


Halaman 9 dari 232

Galeri Iklan Baris Gratis

Service & Maintenance









Heavy Equipment ( Airman - Barata - Bobcat - Bomag - Case - Caterpillar - Clark - Daewoo - Doosan - Dynapac - Ford - Hitachi - Hyster - Hyundai - Ingersoll Rand - JCB - John Deere - Kobelco - Komatsu - Kubota - Linde - Link Belt - Manitou - Massey Ferguson - Mitsubishi - New Holland - Niigata - Nissan - O&K - P&H - Sakai - Sany - Samsung - Sumitomo - Tadano - TCM - Terex - Volvo - Toyota - Zetor)
Heavy Duty Truck ( FAW - Foton - Hino - Howo - Isuzu - MAN - Mercedes - Mitsubishi - Nissan Diesel - Renault - Scania - Sino - Toyota - Volvo )