“ Solusi mudah dan terpercaya dalam mendapatkan Alat Berat & Truk dengan kondisi Bekas dan Siap Kerja ”


Kami Used-HeavyMachinery.Com akan membantu & melayani serta memberikan solusi dalam mendapatkan dan memenuhi
Kebutuhan atas Alat Berat & Truk dengan kondisi Bekas dan Siap Kerja serta harga yang kompetitif.

___________________________ Manfaatkan kemudahan yang akan diberikan dan pelayanan dari kami ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL









Berita
Kuartal III, harga timah kemungkinan terus melorot PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Senin, 15 Juni 2015 11:06

JAKARTA. Melambatnnya pertumbuhan ekonomi global berimbas pada harga timah. Bahkan di kuartal ketiga tahun 2015, besar peluang harga timah bisa melorot hingga US$ 12.000. Mengacu data Bloomberg, Jumat (12/6), harga timah turun 1,01% menjadi US$ 14.750. Sepekan, harga timah ambruk hingga 3,59%.

Ibrahim, Analis dan Direktur PT Ekuilibrium Komoditi Berjangka menilai, di triwulan ketiga mendatang, harga timah bisa menyentuh angka US$ 12.000. Padahal, menurutnya, harga timah yang ideal berkisar US$ 21.500. “Harga di bawah US$ 20.000 sudah dianggap rugi. Di akhir kuartal kedua bisa jadi US$ 13.000,” ujarnya kepada KONTAN, Jumat (12/6).

Ia menjelaskan, estimasi tersebut disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi dunia yang melempem. Lihat saja, Bank Dunia telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari sebelumnya 3% menjadi 2,8%. Begitu pula dengan negara-negara maju seperti Jepang yang direvisi pertumbuhan ekonominya dari semula 1,2% menjadi 1,1% serta Amerika Serikat yang dipangkas dari 3,2% menjadi 2,7%. “Ekonomi global ini masih berlanjut perlambatannya hingga 2016,” tuturnya.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi global juga tercermin pada kondisi negara Tiongkok. Sebagai negara pengonsumsi komoditas terbesar di dunia, perekonomian yang melempem juga berpengaruh terhadap permintaan komoditas yang akhirnya berimbas pada penurunan harga, termasuk timah.

Memang Dana Moneter Internasional atawa International Monetary Fund (IMF) sudah memperbaiki ramalan pertumbuhan ekonomi Tiongkok dari 7% menjadi 6,8%. Data perekonomian Negeri Tirai Bambu memang kurang menggairahkan. Misalnya data manufaktur Tiongkok (HSBC Final Manufacturing PMI) yang mencapai 49,2 per Mei 2015. Meskipun lebih baik dari bulan sebelumnya, angka tersebut masih di bawah ekspektasi para analis yang dipatok 50.

Editor: Uji Agung Santosa


Narasumber : kontan.co.id
Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 16 Juni 2015 14:20
 
Pasokan Lebih, Harga Minyak Dunia Jatuh PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Sabtu, 13 Juni 2015 11:47

TEMPO.CO, Jakarta - Harga minyak dunia jatuh pada Sabtu pagi, 13 Juni 2015 waktu Indonesia, meskipun terjadi penurunan jumlah rig AS, menyusul berita bahwa Arab Saudi bisa terus meningkatkan produksinya di pasar yang sudah kelebihan pasokan.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli merosot 81 sen menjadi ditutup pada 59,96 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Patokan Eropa, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun 1,24 dolar AS menjadi menetap di 63,87 dolar AS per barel di perdagangan London.

Jumlah rig minyak AS turun tujuh rig menjadi 635 rig dalam pekan yang berakhir 12 Juni, menurut Baker Hughes. Jumlah rig yang beroperasi turun hampir 60 persen dari setahun lalu.

Namun, Matt Smith, analis di ClipperData, mengatakan pengurangan dalam pengeboran tidak selalu berarti bullish, mengingat bahwa produksi AS terus meningkat meskipun jumlah rig lebih rendah.

Para analis menunjuk komentar dari eksekutif Saudi Aramco Ahmed al-Subaey yang mengatakan di India bahwa eksportir minyak terbesar dunia itu dapat meningkatkan produksi lebih lanjut dari tingkat rekor untuk memenuhi permintaan. Aramco sedang dalam pembicaraan dengan para pembeli di India untuk memasok lebih banyak minyak, demikian Subaey mengatakan kepada Reuters.

"Janji produksi Saudi berpotensi lebih tinggi telah benar-benar menempatkan pasar di bawah tekanan," kata Smith.

Commerzbank mengatakan sikap Saudi akan berarti bahwa satu-satunya cara untuk memperketat pasar adalah jika pasokan non-OPEC berkurang.

"Karena itu, faktor kuncinya menjadi apakah produksi minyak mulai jatuh seperti yang diharapkan oleh Badan Informasi Energi AS. Jika tidak, kelebihan pasokan yang sedang berlangsung kemungkinan akan terus menekan harga pada semester kedua tahun ini juga," ujarnya.

ANTARA

 

Narasumber : tempo.co

 
Aturan Baru Ekspor Timah Selalu Picu Aksi JualAturan Baru Ekspor Timah Selalu Picu Aksi Jual PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Sabtu, 13 Juni 2015 11:09

Bisnis.com, JAKARTA -- Penerapan aturan baru mengenai ekspor timah pada Permendag Nomor 33/2015 dinilai akan cukup efektif menekan ekspor komoditas tersebut. Sayangnya, pelaksanaan yang baru berlaku tiga bulan setelah diundangkan memicu para eksportir berlomba-lomba mengekspor timah sebelum jatuh tempo.

Head of Corporate Secretary PT Timah (Persero) Tbk Agung Nugroho Soeratno, mengatakan Permendag tersebut akan mempersulit para eksportir timah dengan penerapan clear and clean (CnC), Sayangnya pelaksanaan peraturan tersebut yang baru berlaku tiga bulan setelah diundangkan.

"Dengan adanya jeda waktu tersebut, justru memicu lonjakan ekspor. Seharusnya pelaksanaannya lebih cepat,” kata Agung.

CEO Refined Bangka Tin Petrus Tjandra menilai, fenomena lonjakan volume ekspor  timah selalu terjadi ketika pemerintah mengeluarkan aturan baru mengenai ekspor timah. Dengan adanya jeda waktu sebelum aturan tersebut diterapkan, ada ketidakpastian di tingkat pelaku usaha, karena dinilai akan membuat ekspor semakin ketat.

“Tidak hanya kali ini. Sebelumnya Permendag Nomor 44/2014 juga seperti itu. Ini juga menjadi dilema bagi kementerian. Jika berlaku sejak diundangkan, dibilang tidak ada sosialisasi. Tapi kalau dikasih waktu, ya seperti ini,” kata Petrus.

Pada pelaksanaan Permendag baru tersebut, Petrus menilai, kendati aturannya sudah cukup baik untuk mengatur tata niaga timah, peran pengawasan akan sangat krusial dalam komoditas ekspor ini.

Adapun, terkait harga, Petrus memprediksi bahwa pada dua bulan ke depan, kemungkinan harga jatuh lagi cukup keccil, kendati peluang untuk kembali naik juga tidak besar. Kenaikan harga menurutnya baru akan terjadi satu – dua bulan setelah Permendag tersebut berlaku, yaitu antara September – Oktober.

 

Narasumber : bisnis.com

 
Stok Malaysia melimpah, harga CPO kembali melorot PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Sabtu, 13 Juni 2015 10:15

JAKARTA. Setelah menembus level tertinggi tahun ini pada Jumat (5/6), harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali berada dalam tekanan. Membengkaknya stok CPO di Malaysia dan pemangkasan prediksi pertumbuhan ekonomi global menjadi pemicunya.

Mengacu data Bloomberg, Jumat (12/6) pukul 16.59 WIB harga CPO kontrak pengiriman bulan Agustus 2015 di bursa Malaysia Derivate Exchange turun 0,65%% dibandingkan hari sebelumnya menjadi RM 2.260 per metrik ton. Selama sepekan harga anjlok 2,73%.

Deddy Yusuf Siregar, Analis PT Fortis Asia Futures, menilai wajar jika harga CPO terkoreksi kembali. Pasalnya, stok CPO di Malaysia sedang membludak. Hal ini merujuk pada data stok CPO Malaysia per Mei 2015 lansiran MPOB (Malaysia Palm Oil Board) yang membengkak menjadi 2,24 juta ton, atau tertinggi sejak November 2015.

Deddy menambahkan, permintaan global yang diprediksi bakal lesu tahun ini ikut menekan harga CPO. Ini tercermin dari rilis Bank Dunia yang memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2015 dari semula 3,0% menjadi 2,8%.

Kondisi ini pun diperparah oleh terkoreksinya harga minyak kedelai yang merupakan komoditas substitusi CPO. Harga minyak kedelai Jumat (12/6) dini hari di Chicago Board of Trade (CBOT) mencatatkan koreksi sebesar 1,64% dibandingkan hari sebelumnya.

“Selain itu jika harga masih sulit untuk menghadapi level RM 2.350 – RM 2.400 dapat dipastikan harga CPO akan melemah kembali,” imbuh Deddy.

Padahal di sisi lain menurut data Intertek ekspor CPO Malaysia periode 1 sampai 10 Juni 2015 terangkat 2,25% menjadi 468.975 metrik ton. “Data ini belum mampu untuk membawa harga CPO untuk lepas tinggi,” Imbuh Deddy.

Indikator teknikal memberi sinyal bahwa harga akan cenderung berkonsolidasi. Deddy memaparkan harga berada di bawah moving average (MA) 50, MA 100, dan 200. Moving average convergence divergence (MACD) berada dalam area positif 34. Relative strength index (RSI) yang berada di level 51 dan stochastic yang berada di level 42 sama-sama bergerak turun dari teritori jenuh beli (overbought)

Deddy memperkirakan harga CPO untuk Senin (15/6) akan berada dalam kisaran level RM 2.225 – RM 2.200 per metrik ton. Selama sepekan harga akan bergerak dalam kisaran RM 2.245 – RM 2.166 per metrik ton dan sampai akhir semester 1 harga akan berada di level 2.125 per metrik ton.

Sampai akhir tahun Deddy memperkirakan harga CPO akan terus berkonsolidasi dengan kecenderungan turun. Adapun harga CPO akan bergerak dalam area support RM 1.980 dan resistance RM 2.250 sampai akhir tahun

Editor: Tedy Gumilar

Narasumber : kontan.co.id

 
Stimulus China bikin harga aluminium bergairah PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Jumat, 12 Juni 2015 14:11

JAKARTA. Rumor bahwa Bank Sentral China (PBOC) akan kembali menggelontorkan stimulus mendongkrak harga aluminium. Namun, sebenarnya tengah terjadi tarik menarik sentimen lantaran di sisi lain Bank Dunia baru saja merevisi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2015.

Mengutip Bloomberg, Kamis (11/6) pukul 01.30 waktu Shanghai harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,2% dibandingkan hari sebelumnya menjadi US$ 1.762 per metrik ton. Selama sepekan harga naik 1,09%.

Ibrahim, Analis dan Direktur PT Ekuilibrium Komoditi Berjangka menilai, turunnya tingkat Inflasi China di Bulan Mei 2015 mencuatkan rumor bahwa China akan kembali menggelontorkan stimulus moneter untuk menggenjot laju perekonomiannya.

Perlu diketahui data inflasi China per Mei 2015 yang dirilis pada Selasa (9/6) tercatat 1,2%. Perolehan ini lebih rendah dari prediksi sebesar 1,3% dan merosot dari bulan sebelumnya sebesar 1,5%.

Tak hanya itu penguatan harga juga didukung oleh sentimen positif dari data produksi manufaktur China periode Mei 2015 pada Kamis (11/6) yang tercatat 6,1%. Perolehan Ini merupakan momentum kebangkitan dari posisi terlemah sejak 6 tahun yang tercatat pada bulan sebelumnya yaitu sebesar 5,9%.

Ibrahim menambahkan harga alumunium juga tertopang oleh faktor permintaan yang masih tinggi di sektor manufaktur otomotif dan pesawat terbang dari Negara-negara produsen utama seperti Amerika, Eropa, dan China. Kondisi ini berbeda dengan harga komoditas logam lainnya yang cenderung terkoreksi

Namun Ibrahim menilai saat ini tengah terjadi kondisi tarik menarik sentimen. Sebab, di sisi lain Bank Dunia baru saja merevisi pertumbuhan ekonomi global dari 3,0 % menjadi 2,8%. Mengacu hal tersebut diduga permintaan global untuk komoditas logam termasuk aluminum akan lesu.

Ibrahim menambahkan, momentum penggerak harga aluminium Jumat (12/6) adalah data-data ekonomi AS yang dirilis Kamis (11/6) malam. Adapun data-data tersebut di antaranya adalah data indeks harga ekspor (export price index) yang di prediksi 0,2%, atau tumbuh dari bulan sebelumnya yaitu negatif 0,7% dan data klaim pengangguran (unemployment claims) yang diprediksi sebesar 277.000 ribu orang atau meningkat dari bulan sebelumnya yaitu 276.000 orang.

“Jika data-data ekonomi AS direspon positif oleh pasar maka indeks dollar AS akan menguat dan menahan laju penguatan harga alumunium,” jelas Ibrahim

Kondisi ini tercermin dari indikator teknikal. Ibrahim memaparkan moving average dan Bollinger band berada di level 30% diatas Bollinger tengah. Kondisi tarik menarik tercermin dari kontrasnya dua indikator yaitu moving average convergence divergence (MACD) yang menunjukkan 60% negatif sedangkan stochastic 60% positif. Sementara relative strength index (RSI) cenderung wait and see menunggu data – data ekonomi Amerika.

Mengacu hal tersebut Ibrahim menduga harga aluminium Jumat (12/6) akan berada dalam kisaran US$ 1753 – US$ 1.785 per metrik ton. Selama sepekan harga akan bergerak dalam kisaran US$ 1.745 – US$ 1.800 per metrik ton.

Editor: Yudho Winarto

Narasumber : kontan.co.id

 


Halaman 6 dari 232

Galeri Iklan Baris Gratis

Service & Maintenance









Heavy Equipment ( Airman - Barata - Bobcat - Bomag - Case - Caterpillar - Clark - Daewoo - Doosan - Dynapac - Ford - Hitachi - Hyster - Hyundai - Ingersoll Rand - JCB - John Deere - Kobelco - Komatsu - Kubota - Linde - Link Belt - Manitou - Massey Ferguson - Mitsubishi - New Holland - Niigata - Nissan - O&K - P&H - Sakai - Sany - Samsung - Sumitomo - Tadano - TCM - Terex - Volvo - Toyota - Zetor)
Heavy Duty Truck ( FAW - Foton - Hino - Howo - Isuzu - MAN - Mercedes - Mitsubishi - Nissan Diesel - Renault - Scania - Sino - Toyota - Volvo )