“ Solusi mudah dan terpercaya dalam mendapatkan Alat Berat & Truk dengan kondisi Bekas dan Siap Kerja ”


Kami Used-HeavyMachinery.Com akan membantu & melayani serta memberikan solusi dalam mendapatkan dan memenuhi
Kebutuhan atas Alat Berat & Truk dengan kondisi Bekas dan Siap Kerja serta harga yang kompetitif.

___________________________ Manfaatkan kemudahan yang akan diberikan dan pelayanan dari kami ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL









Berita
Bargain hunting kerek harga CPO PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Rabu, 17 Juni 2015 09:45

JAKARTA. Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali bangkit. Komoditas ini menguat di tengah estimasi produksi CPO Indonesia, salah satu negara produsen terbesar CPO global, membengkak.

Mengutip Bloomberg, Selasa (16/6) pukul 17:23 WIB, harga CPO pengiriman Agustus 2015 di Bursa Malaysia naik 1,32% ke RM 2.295 per ton. Tapi sepekan terakhir, harga CPO menyusut 0,95%. "Saat harga rendah, pelaku pasar membeli sebanyak-banyaknya," ujar analis Monex Investindo Futures, Ariana Nur Akbar. Saat ini terjadi aksi bargain hunting.

Kenaikan harga CPO juga didorong pulihnya volume ekspor minyak sawit Malaysia. Berdasarkan data Intertek periode 1-15 Juni 2015, ekspor CPO Malaysia tumbuh 5,8% menjadi 780.387 ton.

Ariana memprediksi, penguatan harga CPO bisa bertahan hari ini (17/6) bahkan sepekan ini. Sebab, nilai tukar RM melemah sehingga harga berpeluang terangkat.

Research and Analyst Fortis Asia Futures Deddy Yusuf Siregar menambahkan, pelemahan harga minyak kedelai turut mendongkrak CPO. Tercatat harga minyak kedelai turun enam hari terakhir. "Selain itu, ada optimisme CPO Fund yang berlaku di Indonesia," ungkap dia. Kelak, pungutan dana CPO Fund untuk pengembangan biofuel di Indonesia. Harapannya, permintaan CPO meningkat.

Hal serupa berlangsung di Tiongkok. "Pengembangan biofuel di China juga diharapkan mampu menyerap stok CPO yang ada," kata Deddy.

Namun Ariana melihat, tren harga CPO masih turun lantaran permintaan di pasar belum membaik. Apalagi pelaku pasar lebih dulu menimbun stok CPO menjelang Ramadhan. "Sepekan-dua pekan ke depan, permintaan sepi dan harga kembali tertekan. Permintaan dari India dan China juga tak kunjung membaik," papar Ariana.

Stok CPO di India melonjak ke 2,25 juta ton per 1 Juni 2015. Padahal biasanya stok hanya 1,6 juta ton setiap bulan. Di China, perekonomian negara ini masih lesu. Tak hanya India, produksi CPO Indonesia diduga naik 5% menjadi 2,73 juta ton pada Mei 2015. Kenaikan  ini  yang pertama sejak Mei 2012 silam.

Di saat produksi berlimpah, data ekspor CPO Indonesia Mei tahun ini malah diprediksi menyusut 2,2% menjadi 2,2 juta ton. Kondisi tersebut menyebabkan stok CPO naik 1,3% menjadi 2,43 juta ton. Kenaikan stok ini berlangsung empat bulan berturut-turut.

Deddy memproyeksi, harga CPO hari ini RM 2.225-RM 2.325 per ton dan sepekan di  RM 2.200-RM 2.350 per ton. Sedangkan Ariana menerka,  di kisaran RM 2.270-RM 2.290 per ton dan selama sepekan berada di rentang RM 2.240 hingga RM 2.330 per ton.

Editor: Yudho Winarto

Narasumber : kontan.co.id

 
HARGA CPO 16 Juni: Pungutan Ekspor RI Berlaku Juli, CPO Berfluktuasi PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Selasa, 16 Juni 2015 15:03

Bisnis.com, JAKARTA—Harga CPO berfluktuasi pada Selasa pagi (16/6/2015) terpengaruh oleh kenaikan harga minyak kedelai dan pungutan ekspor Indonesia yang berlaku mulai Juli.

Kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, hari ini dibuka naik 0,44% ke harga 2.259 ringgit atau Rp8,10 juta per ton.

Namun, harga terus merosot sejak pembukaan dengan harga terendah di level 2.258 ringgit per ton. CPO diperdagangkan melemah 0,26% ke 2.259 ringgit atau Rp8,04 juta per ton pada pukul 09.55 WIB.

Pelemahan CPO berlawanan dengan kenaikan tajam minyak kedelai dan minyak mentah. Minyak kedelai diperdagangkan naik 0,48% ke US$33,18/pound pada pukul 09.59 WIB, sedangkan minyak jenis Brent naik 0,50% ke US$64,27/barel pada pukul 10.02 WIB.

Sentimen negatif yang bisa berpengaruh pada perdagangan CPO adalah mulai berlakunya pungutan tambahan untuk ekspor CPO Indonesia yang tidak terkena bea keluar.

Ivy Ng dari CIMB Investment Bank, seperti dikutip Bloomberg, mengatakan pungutan tersebut berpengaruh negatif terhadap perusahaan yang tidak mempunyai usaha hilir.

Perusahaan yang mengolah CPO dinilai bisa menikmati margin tarif pungutan US$50/ton untuk CPO dan tarif US$10—US$40/ton untuk produk turunan.

Adapun perusahaan yang memproduksi biodisel akan mendapatkan keuntungan dari subsidi dari dana hasil pungutan tersebut.

Saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) melemah 2,56% pada pukul 10.20 WIB, sedangkan saham PT Eagle High Plantations (BWPT) telah anjlok 8,18%.

 

Pergerakan Harga Kontrak CPO Agustus 2015

Waktu

Ringgit Malaysia/Ton

Persentase Perubahan

16/6/2015

(09.55 WIB)

2.259

-0,26%

15/6/2015

2.263

-0,09%

12/6/2015

2.258

-1,48%

11/6/2015

2.286

-0,22%

10/6/2015

2.291

-1,12%

Sumber: Bloomberg

 

Narasumber : bisnis.com

 
Produksi melimpah, harga minyak loyo PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Selasa, 16 Juni 2015 13:43

JAKARTA. Harga minyak kembali terpeleset di awal pekan ini. Sinyal  membanjirnya stok minyak mentah yang didengungkan Arab Saudi dan dominasi dollar AS menjadi pemicu utama pelemahan si emas hitam. Sebab, stok minyak yang meluber tak diimbangi dengan permintaan.

Mengacu data Bloomberg, Senin (15/6) pukul 16:52 WIB, harga minyak pengiriman Juli 2015 terkoreksi 1,22% menjadi US$ 59,23 per barel. Namun dalam sepekan terakhir, harga minyak naik 1,87%.

Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst Fortis Asia Futures, menjelaskan, pasokan minyak yang meluber merupakan faktor utama pelemahan harga minyak. Lihat saja pasokan Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang melonjak dari 30 juta barel per hari menjadi 31,33 juta barel per hari. Angka ini melampaui target pasokan minyak harian yang dipatok tahun lalu. Sebanyak 12 negara anggota OPEC menguasai 40% pasokan minyak dunia.

Faisyal, Research and Analyst Monex Investindo Futures, memaparkan, salah satu faktor yang mencederai harga minyak berasal dari Arab Saudi. Produsen utama minyak mentah ini mengirim sinyal kesiapan menggenjot produksi di atas level rekor tertinggi demi memenuhi permintaan.

“Padahal belum terkonfirmasi permintaan akan membaik,” ungkap Faisyal. Arab Saudi, Irak dan Uni Emirat Arab merupakan tiga negara produsen minyak terbesar di dunia. Ketiga negara tersebut terus memompa produksi minyaknya hingga mencatat rekor baru.

Berdasarkan informasi Libya News Agency, produksi minyak di negara itu juga terdongkrak hingga 500.000 barel per hari. Ada pula Energy Information Administration yang memproyeksikan persediaan minyak Amerika Serikat melonjak sebanyak 240.000 barel per hari menjadi 9,43 juta barel. Memang Negeri Paman Sam telah memangkas 7 pengeboran aktifnya menjadi 635 pengeboran akhir pekan lalu. Tapi, produksi minyak AS di kuartal pertama 2015 melebihi ekspektasi. “Kalau ada penambahan stok, harga minyak pasti kelelep,” tutur Faisyal.

Melubernya stok minyak mentah dunia tak diimbangi permintaan, sebab perekonomian global tengah melambat. Contohnya, Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari 3% menjadi 2,8% di tahun ini. Pertumbuhan ekonomi AS juga direvisi, dari 3,2% ke 2,7%. IMF sudah memperbaiki ramalan pertumbuhan ekonomi Tiongkok dari 7% ke 6,8%.

Deddy memproyeksikan harga minyak mentah dalam sepekan ke depan bergerak di rentang US$ 58,4 hingga US$ 61,8 per barel. Sedangkan Faisyal menduga, harga minyak dalam sepekan berada di kisaran US$ 58,15 hingga US$ 63,20 per barel.

Hingga akhir tahun ini Faisyal memproyeksikan, harga minyak mentah terkoreksi di kisaran US$ 50 hingga US$ 60 per barel. Adapun prediksi Deddy di level US$ 50 hingga US$ 63 per barel.

Editor: Yudho Winarto

Narasumber : kontan.co.id

 
Tiongkok lesu, tembaga meredup PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Selasa, 16 Juni 2015 13:26

JAKARTA. Komoditas tembaga membuka perdagangan di awal pekan ini dengan koreksi harga. Lesunya prospek perekonomian Tiongkok menjadi pemicu utama penurunan harga tembaga. Sebagai konsumen utama tembaga, kondisi China menyeret jatuh harga komoditas itu.

Mengutip Bloomberg, Senin (15/6) pukul 14.13 WIB di Shanghai, harga tembaga pengiriman tiga bulan di Bursa London merosot 1,15% ke US$ 5.844 per metrik ton. Dalam sepekan terakhir, harga tembaga ambruk 1,74%.

Ibrahim, Analis dan Direktur Komoditi Ekuilibrium Berjangka, menuturkan, dengan pemangkasan target pertumbuhan ekonomi China tahun ini oleh Bank Dunia dari 3% menjadi 2,8%, menjadi sinyal perekonomian Tiongkok masih berbalut sentimen negatif. Ini diperkuat data ekonomi yang terus memburuk.

Data ekspor China pada Mei 2015 turun 2,5% year on year (yoy) menjadi US$ 190,75 miliar. Ekspor sudah turun selama tiga bulan berturut-turut. Begitu pun data impor Mei 2015 yang merosot 17,6% (yoy) menjadi US$ 131,26 miliar. Angka impor bahkan sudah turun sepanjang tujuh bulan terakhir. "Keadaan ini membuat pelaku pasar merasa China perlu pelonggaran stimulus lebih lanjut," kata Ibrahim, kemarin.

Namun hingga kini, Bank Sentral China belum memberi sinyal mengguyur stimulus seperti diharapkan pasar. Tapi Ibrahim menegaskan, saat ini China memerlukan pelonggaran stimulus, bukan pemangkasan kembali suku bunga dan cadangan rasio.

Selama ini keputusan Bank Sentral China  menjalankan sekaligus pelonggaran stimulus dan pemangkasan suku bunga serta rasio malah berimbas pada buruknya performa dan pesimisme pasar akan ekonomi Tiongkok. "China butuh strategi yang lebih baik untuk menggenjot ekonomi," tambah Ibrahim.

Jika tidak, daya serap komoditas seperti tembaga di malah semakin terkikis. China sebagai konsumen utama bisa kehilangan kemampuan menyerap stok tembaga.

Mengacu catatan London Metal Exchange (LME), stok tembaga dalam setahun terakhir melonjak 94%. Penyebab utama adalah, tingginya stok tembaga di gudang di China, sebagai sinyal lambatnya permintaan tembaga yang datang dari negeri itu.

Sementara stok masih tinggi, kondisi diperburuk dengan estimasi kenaikan produksi di Amerika Serikat sebesar 0,2% pada Juni 2015 dibanding bulan Mei 2015. AS merupakan produsen kedua terbesar tembaga di dunia.

Selagi pasar menanti FOMC dan kepastian stimulus China, menurut Ibrahim, maka harga tembaga sepekan ke depan berpotensi terus menurun. "Dalam sepekan ke depan, tembaga bisa turun di sekitar US$ 5.560 hingga US$ 5.890 per metrik ton," prediksi dia.

Editor: Yudho Winarto

Narasumber : kontan.co.id
 
Spekulasi naiknya suku bunga AS tahan laju minyak PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Senin, 15 Juni 2015 14:36

JAKARTA. Selain isu melimpahnya stok minyak, isu kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika (The Fed) yang diprediksi akan terlaksana pada September 2015 mendatang turut membuat harga minyak terkoreksi.

Mengacu data Bloomberg, Senin (15/6) pukul 16.52 WIB, harga minyak untuk kontrak pengiriman bulan Juli 2015 terkoreksi 1,22% menjadi US$ 59,23. Sepekan, harga naik 1,87%.

Kamis (18/6) mendatang, AS akan mengadakan pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menentukan kapan rencana kenaikan suku bunga dieksekusi. Apalagi mata uang Euro yang dapat menahan laju dollar AS terkena sentimen negatif dari pertemuan krisis utang Yunani yang tak menemukan titik terang.

“Nantinya apabila suku bunga AS naik, pelaku pasar akan mengalihkan perhatian dengan mengoleksi dollar AS. Tapi suku bunga naik atau tidak, harga minyak masih terpukul,” tutur Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures. Menguatnya dollar AS akan berimbas pada harga minyak yang mahal sehingga permintaan menurun.

Deddy memprediksi, harga minyak hingga akhir kuartal dua nanti belum mampu melebihi level US$ 63. Tutup tahun 2015, harga minyak akan melenggang dalam rentang US$ 50 – US$ 63.

Sekadar informasi, pasokan Negara-Negara Pengekspor Minyak atawa Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) yang melonjak dari 30 juta barel per hari menjadi 31,33 juta barel per hari berdampak pada turunnya harga minyak.

Editor: Yudho Winarto

Narasumber : kontan.co.id

 


Halaman 5 dari 232

Galeri Iklan Baris Gratis

Service & Maintenance









Heavy Equipment ( Airman - Barata - Bobcat - Bomag - Case - Caterpillar - Clark - Daewoo - Doosan - Dynapac - Ford - Hitachi - Hyster - Hyundai - Ingersoll Rand - JCB - John Deere - Kobelco - Komatsu - Kubota - Linde - Link Belt - Manitou - Massey Ferguson - Mitsubishi - New Holland - Niigata - Nissan - O&K - P&H - Sakai - Sany - Samsung - Sumitomo - Tadano - TCM - Terex - Volvo - Toyota - Zetor)
Heavy Duty Truck ( FAW - Foton - Hino - Howo - Isuzu - MAN - Mercedes - Mitsubishi - Nissan Diesel - Renault - Scania - Sino - Toyota - Volvo )