“ Solusi mudah dan terpercaya dalam mendapatkan Alat Berat & Truk dengan kondisi Bekas dan Siap Kerja ”


Kami Used-HeavyMachinery.Com akan membantu & melayani serta memberikan solusi dalam mendapatkan dan memenuhi
Kebutuhan atas Alat Berat & Truk dengan kondisi Bekas dan Siap Kerja serta harga yang kompetitif.

___________________________ Manfaatkan kemudahan yang akan diberikan dan pelayanan dari kami ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL









Berita
HARGA CPO: Tertekan Setelah Rilis Data Impor Sawit China PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Senin, 22 Juni 2015 11:29

Bisnis.com, JAKARTA— Harga CPO di Bursa Malaysia berfluktuasi pada Senin pagi (22/6/2015) di saat data menunjukkan impor sawit China merosot sepanjang Mei.

Kontrak berjangka CPO untuk September 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, hari ini dibuka naik 0,22% ke harga 2.242 ringgit atau Rp7,97 juta per ton.

Komoditas tersebut kemudian berbalik melemah hingga diperdagangkan lebih murah 0,18% ke 2.233 ringgit atau Rp7,95 juta per ton pada pukul 10.22 WIB.

Data bea cukai China yang dirilis hari ini menunjukkan impor produk kelapa sawit China hanya sebanyak 350.000 ton pada Mei, turun 26,97% dari April dan merosot 14,35% dari Mei 2014.

Harga komoditas terkait CPO hari ini juga melemah. Minyak jenis Brent melemah 0,22 ke US$62,88/barel pada pukul 10.23 WIB, sedangkan minyak kedelai hari ini sempat merosot hingga 0,30% ke US$32,86/pound.

 

Pergerakan Harga Kontrak CPO September 2015

 

Waktu

Ringgit Malaysia/Ton

Persentase Perubahan

22/6/2015

(10.22 WIB)

2.233

-0,18%

19/6/2015

2.237

18/6/2015

2.237

-2,36%

17/6/2015

2.291

16/6/2015

2.291

+1,10%

Sumber: Bloomberg

 

Narasumber : bisnis.com

 
Harga minyak masih konsolidasi PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Senin, 22 Juni 2015 08:54

JAKARTA. Akhir pekan lalu harga minyak kembali terpeleset. Pasar masih dihantui ketakutan pasokan minyak yang melimpah. Di saat yang sama, indeks dollar Amerika Serikat (AS) menguat.

Mengacu data Bloomberg, Jumat (19/6), harga minyak WTI pengiriman bulan Juli 2015 di New York Merchantile Exchange terpangkas 1,39% menjadi US$ 59,61. Sepekan, harga turun 0,58%.

Menurut Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures, harga minyak masih konsolidasi. Merosotnya harga minyak akhir pekan lalu akibat pasokan melimpah.

Per 12 Juni, Energy Information Administration (EIA) memperlihatkan, persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) menyusut menjadi 467,9 juta barel. Tapi pasokan minyak AS tahun ini masih tetap tinggi yakni 89 juta barel lebih banyak ketimbang jumlah pasokan rata-rata dalam kurun lima tahun terakhir.

Produksi minyak Libia juga bertambah hingga 500.000 barel per hari. Menteri Minyak Arab Saudi Ali Al-Naimi  menuturkan, negara tersebut memiliki cadangan kapasitas produksi 1,5 juta- 2 juta barel per hari dan siap digenjot jika permintaan pasar membaik.

Sementara, pasokan minyak OPEC melonjak dari 30 juta barel per hari menjadi 31,33 juta barel per hari. Angka ini melampaui target pasokan minyak harian yang dipatok tahun lalu.

Indeks dollar AS

Nizar Hilmy, analis SoeGee Futures mengatakan meski dalam beberapa hari terakhir harga minyak cenderung konsolidasi di level atas, namun secara fundamental harga masih tertekan. "Terutama stok dan produksi yang siap membanjiri pasar," ujarnya.

Menurut Nizar, kesiapan Arab Saudi mendorong produksi menimbulkan kecemasan di pasar. Sebab, AS sedang dalam driving season. Artinya, banyak rumah tangga berlibur dan menghabiskan bahan bakar minyak selama musim panas berlangsung.

Indeks dollar AS turut menekan pergerakan harga minyak. Kamis lalu, pertemuan Yunani dan Eropa belum mencapai kata sepakat terkait dana talangan. Ini memicu penguatan indeks USD ke 94,08. "Ini menekan harga minyak yang diperdagangkan dengan USD," kata Nizar.

Secara teknikal, menurut Deddy, harga bergerak di atas moving average (MA) 50 dan 100. Indikator stochastic berada di level 69. Relative strength index (RSI) mencapai 56. Selain itu,  moving average convergence divergence (MACD) berada di area positif 0,56. ​Deddy memprediksi, Senin (22/6) harga minyak akan bergerak dalam rentang US$ 59,8-US$ 61,7.

Sedangkan Nizar menilai, harga minyak akan konsolidasi di kisaran sempit dengan kecendrungan negatif walaupun masih uptrend. Prediksinya, harga minyak sepekan mendatang di US$ 58,50–US$ 62,00 per barel.

Hasil survei Bloomberg memperlihatkan, 14 analis dan pelaku pasar menduga harga minyak masih bearish, 9 memperkirakan menilai bullish dan 11 analis melihatnya masih flat.

Editor: Uji Agung Santosa

Narasumber : kontan.co.id

 
Pasar Truk Lesu Mitsubishi Fokus Jaga Pangsa Pasar PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Minggu, 21 Juni 2015 14:30

Bisnis.com, JAKARTA Di tengah total pasar truk yang melemah, tahun ini PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors akan lebih fokus pada peningkatan pangsa pasar dari pada pertumbuhan penjualan.

Padahal di awal 2015 agen pemegang merek truk Mitsubishi Fuso tersebut menargetkan pertumbuhan penjualan di kisaran 5% hingga 10%.

PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors  (KTB) menyebut, tahun lalu penjualan Mitsubishi di segmen truk mencapai 56.270 unit atau menguasai sekitar 46,8% dari total pasar truk sebanyak 120.305 unit.

Sehingga, awalnya, tahun ini Mitsubishi menargetkan penjualan mencapai 60.000 unit. General Manager Marketing Division Mitsubishi Fuso Trucks and Bus Corporation (MFTBC) PT KTB Duljatmono mengatakan, melihat kondisi pasar tahun ini sangat sulit merealisasikan hal tersebut.

“Karena total volume penjualan turun kami tidak bisa mengacu pada target awal tersebut. Sehingga kami akan fokus pada target penaikan pangsa pasar hingga sekitar 50% tahun ini dari total pasar truk semua kelas,” katanya kepada Bisnis, Rabu (17/6).

Merujuk data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), secara wholesales pada periode Januari-Mei 2015 penjualan truk mencapai 36.084 unit. Sedangkan pada periode yang sama tahun lalu raihan penjualan total truk sebanyak 57.180 unit.

Dari total penjualan truk pada periode Januari-Mei 2015 tersebut penjualan truk Mitsubishi mencapai 17.768 unit atau sekitar 49,2% dari total pasar. Gaikindo menyebut, dari jumlah tersebut sebanyak 16.246 unit disumbangkan oleh truk ringan.

Sebanyak 751 unit adalah truk sedang, dan truk berat mencapai 771 unit. Di sisi lain, Duljatmono mengatakan di tataran penjualan ritel total pasar truk periode Januari-Mei mengalami penurunan mencapai 33%.

Namun dia tidak menyebut total penjualan truk secara ritel. Secara ritel Duljatmono mengklaim pangsa pasar Mitsubishi pada periode Januari-Mei 2015 sudah mencapai 47,3%. Sedangkan pada periode yang sama tahun lalu menapak angka 46,1%.

Untuk menggenjot penjualan pada 2015 pabrikan asal Jepang tersebut berencana meluncurkan 12 varian truk baru. Duljatmono mengakui saat ini rencana memperkenalkan 12 varian baru  tersebut belum diubah pihaknya meski pasar melemah.

Ke-12 varian baru tersebut tiga diantaranya merupakan segmen truk ringan. Sebanyak enam varian di segmen truk sedang, dan sisanya di segmen truk berat. Untuk mensiasati pasar yang lesu, Duljatmono mengatakan pihaknya akan membidik sektor pasar yang paling banyak ‘bergerak’.

Dia mencontohkan, saat ekonomi melambat sektor komoditas ikut lesu. Namun di sisi lain sektor distribusi makanan dan minuman masih stabil, sehingga pihaknya fokus di sektor pasar tersebut.

“Kami pun berharap mudah-mudahan sektor infrastruktur bisa bergerak pada semester II sehingga banyak truk dibutuhkan untuk mengangkut keperluan pembangunan,” ujarnya.

Saat ini pasar Fuso sekitar 50% berada di Jawa. Sekitar 30% di Sumatera, 15% di Kalimantan dan sisanya di Indonesia Timur. Untuk penjualan, KTB hingga saat ini didukung oleh 241 unit diler. Dari jumlah itu sekitar 169 diantaranya dikhususkan untuk kendaraan niaga.

 

Narasumber : bisnis.com

 
Dollar AS tunduk terhadap yen PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Minggu, 21 Juni 2015 09:05

JAKARTA. Pernyataan pihak The Fed terkait suku bunga acuannya belum memuaskan pasar. Walhasil, dollar Amerika Serikat (AS) pun mengaku kalah terhadap Yen. Mengacu data Bloomberg pada hari Jumat (19/6), pasangan USD/JPY melemah 0,2% ke level 122,71.

Alwy Assegaf, Analis SoeGee Futures menjelaskan, merosotnya USD/JPY masih disebabkan oleh hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang kurang sesuai dengan ekspektasi pasar. Pihak The Fed belum menuturkan secara gamblang besaran dan kapan mereka akan mengerek suku bunga acuannya. Negeri Paman Sam hanya membeberkan bahwa mereka akan menaikkan suku bunganya di akhir tahun ini atau awal tahun 2016 dengan syarat data-data perekonomian AS yang kinclong.

Selain itu, Jumat (19/6) malam, Gubernur The Fed cabang San Fransisco, John Williams memprediksi mereka akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali di sisa tahun 2015. Pernyataan tersebut serupa dengan penuturan Gubernur The Fed, Janet Yellen sebelumnya karena masih kurang garang. "Pernyataan The Fed yang dovish ini lebih lunak dalam prospek kenaikan suku bunga, membuat dollar AS terkoreksi," ujarnya.

Apalagi pada Kamis (18/6), AS merilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) per Mei 2015 yang tercatat 0,4%, kurang sesuai dengan ekspektasi pasar yang dipatok 0,5%. Begitu pula dengan data inflasi di luar sektor makanan dan energi Core CPI per Mei 2015 yang hanya mencapai 0,1%, level terendah sejak awal tahun.

Dengan data yang belum menggembirakan, rencana AS untuk mendongkrak besaran suku bunganya semakin kecil. Hal inilah yang turut melemahkan kinerja USD/JPY.

Menurut Alwy, jika The Fed siap mengetatkan kebijakan moneternya, maka Bank of Japan (BOJ) menjalankan kebijakan moneter longgar. Jumat (19/6), Gubernur BOJ, Haruhiko Kuroda menyatakan bahwa mereka memiliki banyak cara untuk mencapai target inflasi tahun ini, sebesar 2%. Artinya, mereka memberikan sinyal untuk menggelontorkan stimulus moneter lagi jika dibutuhkan.

Alwy memprediksi, Senin (22/6), USD/JPY akan menguat. Sebab, secara teknikal, pairing tersebut sudah mendekati area jenuh jual (oversold) area sehingga minat beli akan muncul.

 

Editor: Barratut Taqiyyah

Narasumber : kontan.co.id

 
Harga Minyak Tergelincir Setelah Ada Sinyal Permintaan Stagnan PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Kamis, 18 Juni 2015 12:52

Bisnis.com, MELBOURNE – Harga minyak tergelincir pada perdagangan hari ini setelah pasar melihat surplus pasokan sulit menyusut seiring dengan permintaan yang stagnan.

Pada perdagangan hari ini Kamis (18/6/2015) sampai pukul 11:45 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,58% menjadi US$59,57 per barel, sedangkan harga minyak Brent turun 0,3% menjadi US$63,68 per barel.

Jonathan Barrat, Kepala Investasi Ayers Alliance Securities, mengatakan harga minyak saat ini sebenarnya berpotensi untuk bergerak lebih tinggi lagi dengan ekspektasi pasokan minyak global menyusut.

Tapi, faktanya tidak ada kekuarangan minyak di pasar global dan permintaan stagnan,” ujarnya seperti dilansir Bloomberg pada Kamis (18/6/2015).

Hari ini, Energy Information Adminitration (EIA) pun merilis data produksi minyak Amerika Serikat (AS) yang mengalami penurunan sebesar 0,21% menjadi 9,58 juta barel per hari, sedangkan pasokan minyak Negeri Paman Sam juga ikut turun 4,63% menjadi 467,92 juta barel. Angka pasokan itu menjadi level terendah sejak Maret 2015.

 

Narasumber : bisnis.com

 


Halaman 3 dari 232

Galeri Iklan Baris Gratis

Service & Maintenance









Heavy Equipment ( Airman - Barata - Bobcat - Bomag - Case - Caterpillar - Clark - Daewoo - Doosan - Dynapac - Ford - Hitachi - Hyster - Hyundai - Ingersoll Rand - JCB - John Deere - Kobelco - Komatsu - Kubota - Linde - Link Belt - Manitou - Massey Ferguson - Mitsubishi - New Holland - Niigata - Nissan - O&K - P&H - Sakai - Sany - Samsung - Sumitomo - Tadano - TCM - Terex - Volvo - Toyota - Zetor)
Heavy Duty Truck ( FAW - Foton - Hino - Howo - Isuzu - MAN - Mercedes - Mitsubishi - Nissan Diesel - Renault - Scania - Sino - Toyota - Volvo )